Home

Single “PENARI” ( 2014 )

 

Dalam single perawan, berjudul “Penari” yang akan dirilis pertengahan bulan ini, Parahyena meramu dan mengemas musik accoustic dengan sentuhan warna etnik, hal itu dimaksudkan untuk memberi ruang pilihan yang lain bagi banyak kawula muda saat ini yang memilih dan mendengar musik folk sebagai identitas barunya. Lagu “Penari”, bercerita tentang ketertarikan manusiawi mata lelaki/perempuan apabila melihat alunan gerak, kerlingan mata, lentikanya jemari, gemulai tubuh, seakaan ada makna yang ingin penari tawarkan disana, walau terkadang tak tahu apa arti dari maksudnya.

Single “AYAKAN” ( 2016 )

Single “AYAKAN” ini lirik dan musiknya diramu oleh PARAHYENA. Lirik dalam lagu ayakan ini menggunakan ‘Paparikan’ yaitu salahsatu puisi dalam sastra sunda yang dibangun oleh cangkang yang tidak mengandung arti, dan diikuti oleh isi yaitu arti sesungguhnya, yang dikompromikan dengan sastra inggris alakadarnya. Lagu ayakan ini sarat dengan kasih sayang, pembelajaran dan guyonan, dan tidak menutup kemungkinan disalahsatu bagian liriknya menjadi multi tafsir. Dalam single “AYAKAN” ini parahyena berfeaturing dengan Dimas Wijaksana yang merupakan mesin cengkok dari band bernama Mr. Sonjaya.

Single “DI BAWAH REMBULAN” ( 2016 )

Salam hangat,

Parahyena adalah grup musik akustik asal Bandung yang telah merilis 2 single, yakni Penari (2014) dan Ayakan (2015). Tepat pada 1 Juni 2016 Parahyena akan meluncurkan sebuah single ketiga yang berjudul ‘DI BAWAH REMBULAN’ sebagai penanda akan diluncurkan nya album pertama di akhir bulan Juli 2016.

‘DI BAWAH REMBULAN’ bercerita tentang sepasang manusia yang sedang menikmati ketertarikan satu sama lain, rembulan di analogikan sebagai sosok perempuan dambaan yang memiliki daya tarik tinggi, menenangkan, menerangi dan menonjol diantara hiasan langit lainnya. Suasana malam dibawah sinar bulan membuat kedua insan yang jatuh cinta ini seketika membisu, dan keduanya hanya bisa menatap langit sambil menghitung bintang membuat kenangan yang tak begitu saja dapat dilupakan.

Pada lagu ini parahyena memasukan unsur beluk dan diselipi lirik berbahasa sunda. Beluk adalah seni vokal tanpa iringan instrumen, khas masyarakat sunda yang sekarang ini sudah langka untuk kita temui. Kesenian ini tersebar di wilayah agraris dan terutama di dataran-dataran tinggi, mulai dari Banten, Sumedang dan Tasikmalaya. Parahyena mencoba untuk mengkompromikan unsur tradisi dengan instrumen lain sehingga menjadikannya sebuah karya baru.

Mengapa sunda? Karena sunda adalah hal yang paling dekat dengan Parahyena. Tidak hanya pada single “DI BAWAH REMBULAN” , pada album pertama yang kami beri judul ROPEA, Parahyena pun menawarkan musik yang diperoleh dari unsur-unsur tradisi yang ditransformasikan kedalam bentuk karya musik yang unik.

 ALBUM PERAWAN ‘ROPEA’ ( 2016 )

Dua tahun merupakan waktu yang dirasa tepat bagi Parahyena untuk melahirkan album perawannya. Setelah merilis 3 single di tahun-tahun sebelumnya yakni, Penari (2014) lalu Ayakan (2015) yang mendaulat Dimas Wijaksana menjadi teman duet. Hingga yang teranyar Di bawah Rembulan pada 1 Juli 2016, single ketiga tersebut merupakan penanda akan diluncurkannya album perdana yang diberi judul ROPEA.

Ropea mempunyai arti memperbaiki atau memperbaharui dalam bahasa sunda. Musik yang Parahyena tawarkan pada album ini adalah musik yang diperoleh dari beberapa unsur tradisi yang ditransformasikan menjadi sebuah karya yang unik. Kata Ropea dipilih sebagai judul album karena beberapa lagu yang berada di album ini telah dibuat sebelum Parahyena berdiri dan kemudian diperbaharui dengan ciri khas Parahyena.

Ropea pun kami ambil dari asal kata rope yang berarti tali (dalam bahasa inggris), tali yang sifatnya mengikat. Dalam harapan, album ini dapat mengikat para personil menjadi satukesatuan sebagai Parahyena itu sendiri. 3 Agustus 2016 kemarin Parahyena resmi meluncurkan albumnya dalam bentuk awal yakni boxset dengan jumlah yang terbatas, ini diberikan sebagai wujud penghargaan Parahyena terhadap 50 orang pendengar pertama album perawan mereka.

Sebagai wujud rasa syukur atas kelahiran album perawannya, Parahyena memutuskan untuk membuat sebuah mini showcase pada tanggal 16 September 2016. Showcase tersebut merupakan buah dari kerjasama Parahyena dengan Lawangwangi Creative Spaces dalam kesempatan Music Chamber #12. Dengan harapan, teman, keluarga dan khalayak umum bisa ikut merasakan kebahagian atas lahirnya album pertama tersebut.

Album perawan ini terlahir sebagai tanda kenal dari Parahyena kepada khalayak umum sebagai wujud eksistensi Parahyena dalam bermusik. Total 9 lagu dituangkan dengan nuansa khas yang menjadikan karakter parahyena itu sendiri.

Ropea dilahirkan oleh PARAHYENA dan dibalut oleh kerjasama yang membahagiakan bersama Dimas Wijaksana ( Mr Sonjaya ), Rahul Sharma dari India, Luthfi Nurkamal, Gita Suara Choir, Hendri Ekek dan juga Yogi Arighi bersama dengan Ismah yang menggambar cover album Ropea.

Salam Bahagia ,

Parahyena.